Maba Wajib Tau!Hal Ini Sebabkan Anak Kesmas ‘Serba Bisa’

Maba Wajib Tau!Hal Ini Sebabkan Anak Kesmas ‘Serba Bisa’

Penulis & Editor : Hanifah Sholihah

Selamat datang mahasiswa baru di Fakultas Kekurangan Mas-Mas alias Fakultas Kesehatan Masyarakat! 

Setelah 3 tahun berjuang di tingkat Sekolah Menengah Atas (SMA) dan ‘bertarung’ dengan jutaan pelajar lainya untuk mendapatkan kesempatan emas belajar di universitas impian, akhirnya kamu resmi menjadi mahasiswa/i di fakultas pilihanmu. Sekali lagi, selamat datang di fakultas serba bisa!

“Loh kok serba bisa?”

Tentu saja, label ‘serba bisa’ ini bukan hanya asal sebut hanya agar terlihat keren. Sesuai dengan berbagai fakultas kesehatan masyarakat yang ada di Indonesia, diharapkan setiap lulusan program studi dengan gelar SKM atau Sarjana Kesehatan Masyarakat ini memiliki kompetensi ini saat lulus nanti.

8 Kompetensi Sarjana Kesehatan Masyarakat

Dikutip langsung dari website Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Hasanuddin yakni:

  1. Kemampuan untuk melakukan kajian dan analisa (Analysis and Assessment)
  2. Kemampuan untuk mengembangkan kebijakan dan perencanaan program kesehatan (Policy development and program planning)
  3. Kemampuan untuk melakukan komunikasi (Communication skill)
  4. Kemampuan untuk memahami budaya lokal (Cultural competency/local wisdom)
  5. Kemampuan untuk melakukan pemberdayaan masyarakat (Community dimensions of practice)
  6. Memahami dasar-dasar ilmu kesehatan masyarakat (Basic public health sciences).
  7. Kemampuan untuk merencanakan dan mengelola sumber dana (Financial planning and management)
  8. Kemampuan untuk memimpin dan berfikir sistim (Leadership and systems thinking/total system)

Tak hanya kompetensi yang harus dikuasai saat lulus mahasiswa agar siap menghadapi dunia kerja, anak kesmas juga harus memiliki ini.

Profil ‘MIRACLE’

Dikutip langsung dari website Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Hasanuddin yakni:

  1. Manager, yang berarti mereka mampu mengelola Program Kesehatan Masyarakat
  2. Innovator, yang berarti mereka mampu melakukan pendekatan yang inovatif
  3. Researcher, yang berarti mereka memiliki keterampilan dalam melakukan penelitian dan menjelajahi bukti untuk membuat keputusan
  4. Apprenticer, yang berarti mereka profesional dalam pembelajaran hidup
  5. Communitarian, yang berarti mereka mampu bekerja di tengah masyarakat
  6. Leader, yang berarti mereka dapat menjadi pengambil keputusan untuk menemukan visi untuk kesehatan masyarakat
  7. Educator, yang berarti mereka mampu mendidik semua orang untuk hidup sehat.

Tak hanya kompetensi dan profil diatas yang harus dicapai, namun kamu juga perlu memiliki berbagai softskill umum hingga khusus agar nantinya siap bekerja saat gelar SKM tersemat pada namamu.

Bagaimana, sudah siap bergabung dengan fakultas serba bisa?

Referensi:

https://fkm.unhas.ac.id/s1-kesmas/

Terhambatnya Cakupan Imunisasi pada Anak di masa Pandemi COVID-19

Terhambatnya Cakupan Imunisasi pada Anak di masa Pandemi COVID-19

Penulis : Desi Natalia Marpaung

Editor : Hanifah Sholihah

Pandemi COVID-19 memberikan banyak pengaruh pada kehidupan manusia. Adaptasi dengan kebiasaan baru diwajibkan dengan tujuan untuk mencegah transmisi dari virus Corona. Kekhawatiran pada masyarakat akan virus ini berdampak pada perubahan pola aktivitas, termasuk diantaranya pelaksanaan imunisasi pada anak.

Imunisasi adalah proses pembentukan sistem imun pada tubuh sehingga kebal terhadap penyakit tertentu. Imunisasi pada anak bertujuan agar anak mendapatkan kekebalan yang alami sehingga sistem imunnya meningkat dan melindungi anak dari penularan penyakit. Imunisasi rutin pada anak sangat penting untuk dilakukan sesuai dengan jadwal yang telah ditentukan. 

Kenyataannya di era pandemi seperti saat ini, cakupan imunisasi pada anak menjadi terhambat. Orang tua cenderung merasa takut untuk mengunjungi pelayanan kesehatan karena khawatir risiko tertular virus.

Pada Mei 2020, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyebutkan program imunisasi di 68 negara harus terhenti akibat pandemi, mengakibatkan 80 juta bayi yang tinggal di negara tersebut terancam penyakit menular seperti campak dan polio. Hal ini juga terjadi di Indonesia, berdasarkan hasil survei yang dilakukan oleh Kementerian Kesehatan bersama UNICEF, ditemukan bahwa sebesar 83,9% pelayanan kesehatan terdampak pandemi COVID-19, yang artinya program imunisasi juga tidak terlaksana dengan baik. 

Laporan dari Kementerian Kesehatan bahwa cakupan imunisasi di Indonesia yang paling tinggi pada bulan Januari dan Februari, namun setelah kasus pertama diidentifikasi virus Corona pada bulan Maret tahun lalu, cakupan imunisasi menurun drastis baik di Puskesmas, Posyandu, dan fasilitas kesehatan lainnya.

Waktu Pemberian Imunisasi 

Berikut ini waktu pemberian imunisasi lengkap kepada anak sesuai dengan tahapan usia:

  • Bayi berusia kurang dari 24 jam wajib diberikan imunisasi hepatitis B (HB-0).
  • Bayi berusia 1 bulan wajib diberikan imunisasi BCG dan polio.
  • Bayi berusia 2 bulan wajib diberikan imunisasi DPT-HB-Hib 1 dan polio 2.
  • Bayi berusia 3 bulan wajib diberikan imunisasi DPT-HB-Hib 2 dan polio 3.
  • Bayi berusia 4 bulan wajib diberikan imunisasi DPT-HB-Hib 3, polio 4 dan IPV atau polio suntik.
  • Bayi berusia 9 bulan wajib diberikan imunisasi campak atau MR.

Manfaat Imunisasi

Beberapa manfaat spesifik dari pemberian imunisasi pada anak:

  • Vaksin hepatitis B diberikan untuk mencegah penyakit yang dapat menyebabkan pengerasan hati yang berujung pada kegagalan fungsi hati dan kanker hati.
  • Imunisasi polio tetes diberikan untuk mencegah terjadinya lumpuh layu.
  • Imunisasi campak diberikan untuk mencegah campak yang mengakibatkan pneumonia, diare dan menyerang otak.
  • Vaksin DPT-HB-HIB diberikan untuk mencegah 6 penyakit yaitu difteri, pertusis, tetanus, hepatitis B, pneumonia dan meningitis.

Imunisasi dasar lengkap pada anak sangat penting untuk diberikan pada era pandemi saat ini. Kekhawatiran orang tua akan risiko tertularnya virus Corona saat berkunjung ke pelayanan kesehatan, bukan lagi sebuah alasan untuk tidak memberikan imunisasi kepada anak. Istilah jemput bola yang dilakukan oleh tenaga kesehatan dengan mengunjungi secara langsung  rumah bayi atau anak, menjadi salah satu upaya untuk memberikan imunisasi tanpa melupakan protokol kesehatan. 

Oleh karena itu, sebagai orang tua harus memanfaatkan kesempatan dengan baik, sehingga imunisasi yang diberikan kepada anak tidak terhambat dan anak dapat terhindar dari berbagai penyakit menular.

Kemenkes: Waspada Peningkatan Obesitas Di Masa Pandemi COVID-19

Kemenkes: Waspada Peningkatan Obesitas Di Masa Pandemi COVID-19

Penulis : Desi Natalia Marpaung
Editor : Hanifah Sholihah

Sejak diumumkannya pandemi pada Maret 2020 lalu, pandemi COVID-19 telah tersebar di berbagai belahan dunia. Salah satu upaya sudah dilakukan oleh pemerintah dalam mengatasi masalah ini adalah kebijakan Work From Home (WFH) dengan mewajibkan segala aktivitas dilakukan dari rumah atau secara daring. 

Dengan adanya kebijakan WFH, masyarakat dituntut untuk mampu beradaptasi dengan kebiasaan baru ini. Kendati demikian, kebijakan pemutusan rantai penularan COVID-19 juga menghadirkan masalah tersendiri karena adanya perubahan gaya hidup dan juga kondisi di lingkungan masyarakat. 

Salah satu tantangan yang dialami adalah terjadi peningkatan kasus obesitas pada semua jenjang umur. Direktur Gizi Masyarakat Kementerian Kesehatan RI yakni dr. Dhian Dipo, MA menuturkan bahwa di masa pandemi ini peningkatan angka obesitas sangat tinggi. Hal ini dikarenakan adanya pembatasan untuk keluar rumah, yang secara tidak langsung menyebabkan waktu bermain gadget serta kebiasaan nyemil makanan ringan menjadi meningkat. 

Dampak Obesitas

Beberapa dampak kesehatan yang terjadi jika obesitas diantaranya:

  • Dampak Metabolik 
    Lingkar perut pada ukuran tertentu (pria > 90 cm dan wanita > 80 cm) akan berdampak pada peningkatan trigliserida dan penurunan kolesterol HDL, serta meningkatkan tekanan darah, keadaan ini disebut dengan sindroma metabolik. 
  • Dampak Penyakit Lain
    Peningkatan obesitas juga berdampak pada munculnya berbagai penyakit yang terdiri dari perburukan asma, osteoartritis lutut dan pinggul (berhubungan dengan mekanik), pembentukan batu empedu, sleep apnoea (henti nafas saat tidur), low back pain (nyeri pinggang), gangguan menstruasi, kanker payudara, penyakit jantung koroner, diabetes, hipertensi, hingga stroke. 

Upaya Cegah Obesitas

Berikut upaya yang dapat diterapkan untuk mencegah berbagai penyakit merusak masa depan:

  • Pola Makan
    Upaya pencegahan obesitas dengan memperhatikan jumlah, jenis dan jadwal makan dan juga pengolahan bahan makanan. Dalam satu piring makanan yang dikonsumsi harus terdiri dari karbohidrat, protein dan juga sayur serta buah-buahan, dengan takaran ¼ porsi piring sumber karbohidrat, ¼ porsi piring protein rendah lemak, lebih dari ¼ porsi piring sayuran, dan kurang dari ¼ porsi piring buah-buahan.
  • Pola Aktivitas Fisik
    Upaya pengelolaan dan pencegahan obesitas dapat dilakukan melalui peningkatan aktivitas fisik, yang gerakan nya kontinyu dengan gerakan intensitas rendah sampai sedang, sehingga terjadi peningkatan massa otot. Hal ini dilakukan untuk penyeimbangan kalori yang diterima dan dikeluarkan oleh tubuh.
  • Pola Emosi Makan
    Pencegahan obesitas dapat dilakukan dengan memahami pola emosi makan yakni kebiasaan makan dengan jumlah berlebihan dan cenderung memilih makanan yang tidak sehat yaitu tinggi gula, garam dan lemak. Oleh karena itu seseorang harus memahami takaran gula, garam, lemak, yang dibutuhkan oleh tubuh yaitu sekitar 50 gr gula, 5 gr garam, dan 67 gr minyak.
  • Pola Tidur/Istirahat
    Kurang tidur dapat menyebabkan hormon leptin terganggu, sehingga rasa lapar tidak terkontrol. Seseorang dianjurkan untuk tidur sebanyak 6-8 jam per harinya, namun jika kuantitas tidurnya tidak sesuai maka akan mempengaruhi keseimbangan yang memicu obesitas.  

Obesitas dapat menyerang siapapun dan tak pandang bulu. Namun kabar baiknya, obesitas dapat dicegah ketika seseorang mampu menyeimbangkan asupan kalori yang masuk kedalam tubuh dan juga kalori yang dikeluarkan oleh tubuh. Jangan jadikan masa pandemi sebagai alasan untuk bermalas-malasan, berbagai aktivitas fisik seperti olahraga tidak melulu harus keluar rumah, namun bisa juga dilakukan didalam rumah. 

Kurangi kegiatan yang sifatnya rebahan saja sebagai bentuk upaya pencegahan penularan virus dengan menjaga tubuh tetap sehat dan bugar.

Stay Safe and Stay Health!

Referensi:
Direktorat Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Tidak Menular Direktorat Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Kementerian Kesehatan.2017.Panduan Pelaksanaan Tekan Angka Obesitas (GENTAS).
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia.2018.Epidemi Obesitas. 

Siap Menyambut Sekolah Tatap Muka Kembali?

Siap Menyambut Sekolah Tatap Muka Kembali?

Penulis : Ayuc Shinta Indah Sari ; Editor : Hanifah Sholihah

Tak terasa, sudah satu tahun lebih pelaksanaan Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) atau sekolah online dilakukan, Ada angin segar untuk yang sudah rindu dengan suasana kelas, yakni per Juli 2021 direncanakan sekolah tatap muka secara langsung akan dibuka kembali.

Hal tersebut ditargetkan oleh Nadiem Anwar Makarim selaku Menteri Pendidikan dan Kebudayaan dengan persyaratan pemberian vaksinasi Covid-19 untuk tenaga pendidik sudah selesai pada Juni 2021. Pemerintah sendiri telah menargetkan pada akhir Juni sebanyak 5,5 juta tenaga pendidik guru dan dosen telah menerima vaksinasi Covid-19.

Kebijakan sekolah tatap muka hingga kini masih dalam tahap uji coba. Pelaksanaan sekolah tatap muka tidak dilaksanakan secara murni seperti sedia kala.

Teknis dari sekolah tatap muka ini dilaksanakan dengan membagi jumlah pertemuan tatap muka murid secara bergilir. Ada yang sekolah dengan tatap muka secara langsung dan ada yang sekolah dengan pembelajaran jarak jauh.

Sekolah yang melaksanakan tatap muka secara langsung harus menerapkan protokol kesehatan secara ketat, guna mencegah penularan Covid-19.

Kendati demikian, kebijakan sekolah tatap muka secara langsung dikhawatirkan akan menjadi sumber penularan baru bagi para pelajar, mengingat yang menjadi prioritas penerima vaksin Covid-19 masih hanya tenaga pendidik.

Daftar Pustaka :

Solahudin Gazali. 2021. Juli 2021 Sekolah Dibuka Kembali dengan Tatap Muka Tidak Murni. Gridhelath.id diakses pada 22 Maret 2021 di https://health.grid.id/read/352575955/juli-2021-sekolah-dibuka-kembali-dengan-tatap-muka-tidak-murni?page=2

Zubaidah Neneng. 2021. Sekolah Tatap Muka Kembali Dibuka Juli 2021, Ini Mekanisme dan Persyaratanya. Jabar.news.id. Diakses tanggal 22 Maret 2021 di https://jabar.inews.id/berita/sekolah-tatap-muka-kembali-dibuka-juli-2021-ini-mekanisme-dan-persyaratannya#:~:text=Sekolah%20Tatap%20Muka%20Kembali%20Dibuka%20Juli%202021%2C%20Ini%20Mekanisme%20dan%20Persyaratannya,-Neneng%20Zubaidah%20Rabu&text=JAKARTA%2C%20iNews.id%20%2D%20Menteri,pendidik%20selesai%20pada%20Juni%202021.

Makhluk Hidup Penghasil Sampah

Makhluk Hidup Penghasil Sampah

Penulis  : Ayuc Shinta ; Editor : Hanifah Sholihah

Manusia adalah makhluk hidup penghasil sampah. Apalagi di era saat ini, dimana pola hidup manusia cenderung konsumtif yang berakibat semakin menumpuk jumlah sampah yang dihasilkan setiap harinya.  

Data dari Kementerian Lingkungan Hidup yang bersumber dari Sistem Informasi Sampah Nasional (SIPN) mencatat timbunan sampah Indonesia mencapai 31.005.507,73 ton pada tahun 2020. Dari total sampah tersebut terdiri atas sampah sisa makanan 30,4%, sampah kayu/daun/ranting 17,3%, sampah plastik 16,6%, sampah kertas/karbon 11,1%, sisanya merupakan jenis sampah lainya. Dari jumlah tersebut hanya 45,83% atau 14.210.924 sampah terkelola, sisanya merupakan sampah yang belum terkelola.

Dari berbagai jenis, sampah rumah tangga menjadi sampah yang paling mendominasi dengan menyumbang 65,3% dari jumlah total jenis sampah.

Tingginya jenis sampah sisa makanan dan sumber sampah yang berasal dari rumah tangga, dapat ditarik kesimpulan bahwa jumlah sampah terbesar adalah sampah organik yang bersifat mudah busuk, apabila tidak dikelola dengan tepat.

Padahal sedari kecil, kita sudah memahami teori untuk mengurangi sampah melalui 3R, yakni Reuse, Reduce, dan Recycle. Nyatanya, sebagian besar masyarakat belum menyadari bahwa sampah adalah tanggung jawab bersama, yang tidak bisa diselesaikan oleh satu pihak saja.

Menurutmu sebagai lulusan kesehatan masyarakat, apa yang perlu dilakukan agar masyarakat sadar dan tergerak untuk melakukan upaya pengelolaan minimal di sekitar rumahnya?

Konsultasi Online #14 Jago Preventif Digelar untuk Mempersiapkan Kehidupan Pasca Kampus

Konsultasi Online #14 Jago Preventif Digelar untuk Mempersiapkan Kehidupan Pasca Kampus

Penulis : Athiya Adibatul Wasi

Sabtu, 20 Maret 2021 telah terselenggara kegiatan Konsultasi Online ke-14 oleh Jago Preventif dengan tema “Life After Campus: Setelah Sarjana, Mau Kemana?” Kegiatan ini diadakan secara rutin sebagai wadah untuk memfasilitasi member Jago Preventif agar wawasannya semakin bertambah. Tema yang diangkat kali ini bertujuan agar mahasiswa dan lulusan kesehatan masyarakat tidak terjebak dalam kegalauan setelah lulus dan lebih siap menghadapi kehidupan pasca kampus.

Konsultasi Online #14 kali ini bersama mentor yang sangat inspiratif, yaitu Serius Miliyani Dwi Putri, S.K.M selaku Founder Bagimili Institute serta penerima beasiswa LPDP yang saat ini sedang menempuh studi S2 Epidemiologi Kedokteran Tropis di Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga. Pemaparan materi diawali dengan penjelasan mengenai beberapa tantangan yang akan ditemui setelah lulus nanti, “Beberapa tantangan ini meliputi banyaknya alternatif pilihan yang harus dipilih. Apakah harus menikah, bekerja, atau melanjutkan studi. Kemudian tingkat kepercayaan diri yang menurun, persaingan yang semakin ketat, serta keputusasaan yang bisa saja hinggap,” papar mentor yang akrab disapa Kak Mili tersebut.

Setelah mengenal dan memahami berbagai tantangan tersebut, mahasiswa dan lulusan kesehatan masyarakat perlu mempertimbangkan jalan hidup yang akan dipilih setelah lulus. Tentukan apa yang sebenarnya menjadi tujuan hidup selanjutnya, kumpulkan informasi sebanyak-banyaknya tentang apa yang ingin dituju serta pikirkan dan pertimbangkan konsekuensi yang akan dihadapi. “Beberapa hal yang perlu disiapkan untuk menghadapi kehidupan pasca kampus diantaranya yaitu upgrade wawasan dengan membaca dan kembangkan pola pikir dengan mengikuti pelatihan/workshop, mulai membangun relasi, upgrade CV, serta aware terhadap beragam informasi lowongan kerja,” jelasnya.

Menurut Kak Mili, apapun yang dipilih setelah lulus nanti, baik bekerja, melanjutkan studi, menikah ataupun pengabdian, semua memiliki beban dan tanggung jawab masing-masing.  Hidup ini adalah pilihan, dan dalam menentukan pilihan hidup perlu mengetahui visi, mengenali keinginan, menggali pengalaman dari manapun, serta mengenali kelemahan diri. “Hidup pasti tidak lepas dari risiko. Tidak ada mimpi yang dicapai tanpa risiko. Jangan  menyerah, karena hal baik butuh waktu. Kita akan tahu apakah pilihan tersebut menjadi pilihan yang terbaik ketika kita mengetahui kemungkinan terburuknya dan siap dengan kemungkinan terburuk itu. Maka, mulailah untuk merencanakan dan mempersiapkan dengan sebaik-baiknya,” tutup Kak Mili.